06
The Stone Roses: gitar bertemu ritme dansa
Album debut yang menggabungkan pop gitar dengan ritme lantai dansa, lalu dua tahun di pengadilan melawan kontrak yang dinyatakan hakim sebagai berat sebelah sepenuhnya.
Pada 1988, dua hal terjadi bersamaan di Manchester tanpa saling menyadari. Klub-klubnya dipenuhi musik dansa impor dengan ritme mesin yang stabil. Ruang latihannya masih dipenuhi band gitar yang berlatih format konvensional. The Stone Roses adalah titik di mana keduanya bertemu, dan sekaligus contoh paling jelas di situs ini tentang apa yang terjadi kalau sebuah band menandatangani kontrak yang tidak dipahaminya.
Apa yang terjadi
Pada April 1988 The Stone Roses menandatangani kontrak rekaman dengan Silvertone Records dan perjanjian penerbitan dengan Zomba Music.
Album debut mereka, The Stone Roses, dirilis pada 1989. Musiknya menempatkan melodi gitar dan vokal pop di atas permainan drum dan bas yang mengikuti logika lantai dansa, bukan logika rock.
Pada 27 Mei 1990 band ini tampil di Spike Island, sebuah bekas lahan industri di Widnes, di depan sekitar tiga puluh ribu penonton. Pertunjukan itu digelar ketika perselisihan dengan label mereka sudah berjalan.
Pada September 1990 Zomba, pemilik Silvertone, mengeluarkan perintah pengadilan yang melarang band ini merekam untuk label lain. Kasusnya berlanjut sampai pagi 20 Mei 1991, ketika Hakim Humphries di High Court menyatakan kontrak rekaman dan perjanjian penerbitan itu tidak dapat diberlakukan. Kontrak yang ditandatangani pada April 1988 disebutnya menindas, tidak adil, dan sepenuhnya berat sebelah, sehingga perintah pengadilan itu merupakan pembatasan perdagangan. Band ini kemudian menandatangani kontrak dengan Geffen.
Kenapa itu terjadi
Sisi musikalnya punya sebab yang bisa ditunjuk. Ritme dansa masuk ke musik gitar Manchester bukan karena band-bandnya memutuskan mengikuti tren, melainkan karena orang yang sama menghadiri kedua ruang tersebut. Musisi yang berlatih di gudang pada siang hari adalah pengunjung Haçienda pada malam hari. Yang berubah bukan selera, melainkan referensi ritmis yang dianggap normal. Drum yang lurus dan berulang, yang dalam rock dianggap membosankan, di lantai dansa justru adalah syarat.
New Order sudah membawa mesin ke musik Manchester beberapa tahun sebelumnya, jadi gagasan bahwa gitar dan ritme elektronik bisa berada di lagu yang sama bukan hal asing di kota ini.
Sisi kontraknya punya sebab yang lebih tua dan lebih umum. Pada 1988 The Stone Roses adalah band tanpa daya tawar. Mereka menandatangani syarat yang ditawarkan karena alternatifnya adalah tidak merilis apa pun. Salah satu klausul yang kemudian dinilai tidak adil adalah cakupan wilayah, yang dalam kontrak itu ditulis mencakup dunia dan tata suryanya.
Yang membuat kasus ini penting bukan keanehan klausulnya, melainkan asimetri informasi di baliknya. Sebuah label punya pengacara yang menyusun kontrak setiap minggu. Sebuah band berusia awal dua puluhan menandatanganinya sekali seumur hidup. Ketidakseimbangan itu bukan kecelakaan; itu adalah keadaan normal industri ini, dan pengadilan pada 1991 pada dasarnya mengakui bahwa keadaan normal itu bisa melewati batas hukum.
Perlu ditambahkan bahwa memenangkan kasus tidak berarti tidak ada kerugian. Band ini menghabiskan lebih dari dua tahun dalam sengketa, tepat pada periode ketika album debutnya sedang paling berpengaruh.
Apa akibatnya
Bandingkan hasil ini dengan Factory. Musisi Factory memiliki karyanya sejak awal karena labelnya menolak membuat kontrak formal, dan keluar utuh ketika labelnya bangkrut. The Stone Roses memiliki karyanya hanya setelah menang di pengadilan, dan membayar dua tahun kariernya untuk itu. Dua pendekatan yang berlawanan, dengan kegagalan yang berbeda: satu melindungi musisi dan membunuh perusahaannya, satu lagi melindungi perusahaan sampai pengadilan turun tangan.
Secara musikal, album 1989 dan pertunjukan Spike Island mengubah skala perhatian terhadap Manchester. Setelah ini, kota tersebut bukan lagi cerita menarik untuk pers musik, melainkan sesuatu yang perlu diberi nama, dan penamaan itu adalah entri tersendiri.
Salah kaprah yang umum
Sering dikatakan bahwa The Stone Roses menghilang selama lima tahun setelah album pertama karena kemalasan atau perfeksionisme berlebihan.
Sebagian besar jeda itu bukan pilihan. Perintah pengadilan pada September 1990 secara hukum melarang mereka merekam untuk label lain, dan larangan itu baru berakhir pada Mei 1991. Band ini tidak sedang menunda; mereka sedang dilarang bekerja. Perfeksionisme di studio memang menambah panjang jeda sesudahnya, tetapi delapan bulan pertama dari jeda itu adalah akibat langsung dari kontrak yang mereka tandatangani ketika belum punya posisi tawar apa pun.
Sumber
- The Irish Times: Wars of the Roses
- Wikipedia: The Stone Roses (album)
- Encyclopedia.com: The Stone Roses