10

1992

Keruntuhan 1992: kontrak longgar, biaya rekaman, dan kekerasan

Tiga masalah yang menumpuk selama satu dekade jatuh tempo pada tahun yang sama, dan sebuah label bangkrut karena tidak memiliki apa pun yang bisa dijual.

Keruntuhan yang mendadak biasanya bukan mendadak. Pada 1992 Factory Records berhenti berdiri dalam hitungan bulan, tetapi setiap sebabnya sudah ada sejak bertahun-tahun sebelumnya, tertulis dalam keputusan yang saat dibuat terlihat masuk akal atau bahkan mulia. Entri ini menutup rantai yang dibuka di entri pertama.

Apa yang terjadi

Sepanjang 1992 Happy Mondays merekam …Yes Please! di Barbados dan Surrey dengan anggaran seratus lima puluh ribu pound yang membengkak jadi tiga ratus delapan puluh ribu pound. Pada periode yang sama, New Order dilaporkan menghabiskan empat ratus ribu pound untuk album kembali mereka.

Haçienda terus menghabiskan puluhan ribu pound setiap bulan, seperti yang sudah dilakukannya selama bertahun-tahun. Klub itu sempat tutup pada awal 1991 dan dibuka kembali dengan pengamanan yang diperketat setelah masalah kekerasan.

…Yes Please! dirilis pada September 1992 dan gagal secara komersial. Pada November 1992 Factory Communications Ltd dinyatakan bangkrut.

London Records berusaha mengakuisisi label itu. Kesepakatan gagal ketika ditemukan bahwa New Order, bukan Factory, adalah pemilik katalog belakang New Order, akibat kebiasaan awal label yang menghindari kontrak formal. Banyak mantan artis Factory, termasuk New Order, kemudian pindah ke London Records.

Haçienda sendiri bertahan beberapa tahun lagi, kehilangan izin hiburannya pada Juni 1997 dan tutup pada 28 Juni 1997.

Kenapa itu terjadi

Tiga sebab bekerja bersamaan, dan tidak satu pun cukup sendirian.

Sebab pertama adalah kepemilikan. Aset paling berharga sebuah label adalah katalog belakangnya, karena katalog itu menghasilkan uang tanpa biaya produksi baru dan bisa dijual ketika perusahaan butuh uang. Factory tidak memilikinya. Keputusan pada 1978 untuk menyerahkan kepemilikan penuh ke musisi bekerja persis seperti yang diniatkan selama empat belas tahun, lalu menghapus satu-satunya jalan keluar ketika jalan keluar dibutuhkan. Perusahaan yang kehabisan uang biasanya menjual asetnya. Factory tidak punya aset.

Sebab kedua adalah struktur biaya. Sebuah label dengan pemasukan terbatas menanggung tiga pengeluaran besar sekaligus: klub yang tidak pernah untung, dan dua album mahal dari dua band andalannya pada tahun yang sama. Yang membuat ini fatal bukan besarnya angka, melainkan tidak adanya rem. Label tanpa kontrak formal juga label tanpa klausul yang bisa menghentikan sesi rekaman yang sudah dua setengah kali lipat anggaran. Dan karena orang yang sama mewakili band sekaligus perusahaan, tidak ada pihak yang tugasnya berkata cukup.

Sebab ketiga adalah kekerasan di klub, dan ini yang paling sering diperlakukan sebagai catatan kaki. Setelah acid house membawa keramaian, klub ini juga menarik perhatian kelompok kriminal terorganisasi yang melihat pasar narkoba di dalamnya. Masalah pengamanan dan senjata membuat klub sempat ditutup pada awal 1991 dan meningkatkan biaya operasi ketika dibuka lagi. Perhatian polisi dan risiko izin mengubah klub dari beban keuangan jadi beban yang juga tidak pasti secara hukum.

Yang mengikat ketiganya adalah pola yang sama yang membuat semua ini mungkin sejak awal. Kondisi yang memungkinkan skena ini muncul, yaitu tidak adanya penjaga gerbang, modal kecil, dan keengganan memperlakukan musik sebagai bisnis, adalah kondisi yang sama yang membuatnya tidak punya pertahanan ketika uang yang mengalir masuk jadi besar.

Apa akibatnya

Musisi keluar dari keruntuhan ini dalam keadaan jauh lebih baik daripada perusahaannya. Karena katalognya milik mereka, New Order bisa langsung bernegosiasi sendiri. Ini kebalikan dari pola biasa kebangkrutan label, di mana artis terjebak dalam kontrak yang berpindah tangan ke kreditur.

Perhatian pers berpindah. Dalam dua tahun setelah 1992, cerita musik Inggris pindah ke Britpop, dan Manchester berhenti jadi pusat perhatian nasional.

Bangunan-bangunan yang jadi titik awal cerita ini kemudian naik nilainya. Kota yang pada 1985 tidak bisa menagih sewa di sebagian kompleks perumahannya berubah jadi kota dengan properti pusat mahal, dan lokasi Haçienda, setelah dirobohkan pada 2002, digantikan apartemen yang memakai namanya.

Salah kaprah yang umum

Cerita ini sering diringkas sebagai kisah orang-orang bodoh yang menghamburkan uang, atau sebaliknya sebagai kisah idealisme murni yang dikalahkan industri.

Keduanya tidak akurat. Keputusan yang menjatuhkan Factory adalah keputusan yang sama yang membuatnya berarti. Kontrak yang menyerahkan kepemilikan ke musisi melindungi musisi persis seperti janjinya, dan itu terbukti pada 1992 ketika mereka keluar utuh. Klub yang merugi bertahun-tahun bertahan cukup lama untuk masih berdiri ketika acid house tiba. Yang gagal bukan nilai-nilainya, melainkan anggapan bahwa sebuah perusahaan bisa menjalankan nilai-nilai itu tanpa memiliki apa pun. Kegagalannya bersifat struktural, dan sudah tertulis di dokumen pertamanya.

Sumber

Topik