02

1978

Factory Records dan kontrak yang sebenarnya bukan kontrak

Sebuah label yang menyerahkan kepemilikan penuh ke musisinya, ditulis dengan darah, dan kenapa keputusan idealis itu yang justru membunuhnya empat belas tahun kemudian.

Pada 1978, cara kerja industri rekaman sudah mapan dan tidak menguntungkan musisi. Label membiayai rekaman, lalu memiliki hasilnya. Band menerima persentase kecil dan menandatangani hak atas karyanya sendiri, sering kali untuk jangka waktu yang sangat panjang. Di Manchester tahun itu, empat orang mendirikan label yang membalik susunan tersebut sepenuhnya, dan tidak benar-benar memikirkan apa yang akan terjadi kalau label itu suatu hari perlu dijual.

Apa yang terjadi

Factory Records didirikan pada 1978 oleh Tony Wilson, Alan Erasmus, Rob Gretton, dan Martin Hannett. Wilson adalah presenter televisi lokal, Erasmus manajer aktor, Gretton manajer band, Hannett produser rekaman. Tidak satu pun dari mereka berlatar belakang bisnis rekaman besar.

Ketika Joy Division bergabung, kesepakatannya dibuat dalam bentuk yang kemudian jadi legenda: sebuah dokumen yang ditandatangani Wilson dengan darahnya sendiri, berisi kalimat bahwa musisi memiliki segalanya dan perusahaan tidak memiliki apa pun. Hak penerbitan dibagi rata lima puluh lima puluh antara label dan band. Band juga bebas pergi kapan saja.

Factory memberi nomor katalog pada hampir semua hal yang tersentuh label, bukan cuma rilisan musik. Klub Haçienda adalah FAC 51. Bar milik label adalah FAC 201. Peti mati Tony Wilson, bertahun-tahun kemudian, adalah FAC 501.

Pada November 1992, Factory Communications Ltd dinyatakan bangkrut.

Kenapa itu terjadi

Ada dua pertanyaan berbeda di sini, dan keduanya perlu dijawab: kenapa kontraknya dibuat seperti itu, dan kenapa itu berakhir buruk.

Kontrak itu dibuat seperti itu karena Factory tidak dibangun sebagai bisnis. Label ini dijalankan sebagai proyek dengan sikap tertentu terhadap seni dan kepemilikan, oleh orang-orang yang punya penghasilan lain. Wilson punya pekerjaan tetap di televisi. Ketika sebuah label tidak bergantung pada pendapatannya sendiri untuk bertahan hidup, memberikan hak penuh ke musisi tidak terasa seperti pengorbanan finansial. Terasa seperti pernyataan sikap, dan memang itulah tujuannya.

Ada juga alasan praktis. Pada 1978 Factory tidak punya uang untuk bersaing dengan label London yang menawarkan uang muka besar. Yang bisa ditawarkan Factory bukan uang, melainkan syarat. Kebebasan dan kepemilikan penuh adalah satu-satunya mata uang yang dimiliki label ini, dan itu cukup untuk menahan Joy Division ketika tawaran bernilai jutaan pound datang dari London.

Kenapa itu berakhir buruk butuh penjelasan yang lebih dingin. Sebuah label rekaman punya satu aset yang benar-benar berharga, yaitu katalog belakangnya, kumpulan rekaman lama yang terus menghasilkan uang tanpa biaya produksi baru. Katalog itulah yang dibeli orang ketika mereka membeli sebuah label.

Factory tidak memiliki katalognya sendiri. Karena praktik awal label yang menghindari kontrak formal, New Order, bukan Factory, adalah pemilik katalog belakang New Order. Ketika label ini akhirnya butuh dijual pada 1992, London Records datang untuk mengakuisisi, lalu menemukan bahwa barang paling berharga di dalam perusahaan itu bukan milik perusahaan. Kesepakatan gagal.

Perlu dicatat bahwa kontrak itu bukan satu-satunya penyebab. Factory kehilangan uang lewat banyak jalur sekaligus, termasuk klub yang menghabiskan puluhan ribu pound setiap bulan dan biaya rekaman yang lepas kendali. Tetapi kontrak itulah yang mengubah krisis kas menjadi kebangkrutan tanpa jalan keluar. Perusahaan yang kehabisan uang biasanya masih bisa menjual asetnya. Factory tidak punya aset untuk dijual.

Apa akibatnya

Keputusan 1978 ini muncul lagi di hampir setiap entri berikutnya. Uang New Order membiayai Haçienda, bukan uang Factory, karena secara hukum memang begitu susunannya. Ketika Haçienda terus merugi selama bertahun-tahun, yang menanggungnya adalah band.

Pada 1992, ketika biaya rekaman Happy Mondays melewati batas dan pemasukan tidak cukup, tidak ada mekanisme kontraktual untuk menahan kerugian. Dan ketika semuanya berakhir, para musisi keluar dengan karya mereka utuh sementara labelnya lenyap.

Menarik untuk membandingkan ini dengan Stone Roses, yang menandatangani kontrak konvensional dengan label lain pada tahun yang sama Haçienda mulai ramai, lalu menghabiskan dua tahun di pengadilan untuk keluar darinya.

Salah kaprah yang umum

Kontrak berdarah itu sering diceritakan sebagai kegilaan romantis belaka, bukti bahwa Wilson lebih peduli gestur daripada bisnis. Itu setengah benar dan melewatkan intinya.

Perjanjian itu bekerja persis seperti yang dijanjikan selama empat belas tahun. Musisi Factory memang memiliki karya mereka, dan ketika labelnya runtuh, mereka tidak kehilangan apa pun; New Order langsung bisa bernegosiasi sendiri dengan London Records. Diukur dari tujuannya sendiri, melindungi musisi, kontrak itu berhasil sepenuhnya. Yang gagal adalah anggapan bahwa sebuah label bisa bertahan tanpa memiliki apa pun. Kegagalannya bukan kegagalan idealisme, melainkan kegagalan akuntansi.

Sumber

Topik